Menurutbeberapa ulama, Nabi SAW. dalam menerima wahyu yang diturunkan Allah SWT kepadanya, telah mengalami berbagai macam cara. Kata Mujahid dan kebanyakan ahli tafsir yang dimaksud dengan wahyu dalam surat Asysyura, yaitu Tuhan mencampakkan ke dalam jiwa Nabi. wahyu yang dimaksudkan. 3. Datang kepada Nabi wahyu seperti gerincingan lonceng. SemasaNabi Muhammad s.a.w dilantik menjadi rasul, pelbagai cara wahyu diturunkan oleh Allah s.w.t. Terdapat 7 cara wahyu diturunkan kepada nabi berdasarkan sejarah. Wahyu yang diturunkan adalah berupa mimpi yang baik; Pengetahuan yang diletakkan oleh Allah ataupun Malaikat Jibrail dalam hati nabi tanpa bersuara. Malaikat Jibrail datang kepada Alquranditurunkan dalam 2 tahap, pada tahap pertama, Alquran diturunkan menuju ke Baitul Izzah. Baca juga: Cara Khatam Alquran saat Bulan Puasa Ramadhan 2022, Ikuti Tips-tipsnya Berikut Ini Lalu tahap kedua, melalui Malaikat Jibril, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Adapunhikmah diturunkan Alquran secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Saw. adalah sebagai berikut: 1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat. Dakwah Rasulullah pada era Makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu ini menguatkan hati AkhirnyaJibril datang membawa wahyu yang dibuka dengan teguran Tuhan kepada Nabi: "Dan jangan kamu sekali-kali mengatakan terhadap sesuatu, aku akan melakukannya esok, kecuali mengucapkan Insya Allah' (QS. 18: 23-24). Wahyu kemudian menjawab pertanyaan lebih daripada yang diharapkan. hkdv. MACAM-MACAM WAHYUDiterimanya wahyu oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam merupakan peristiwa yang sangat besar. Turunnya merupakan peristiwa yang tidak disangka-sangka. Begitulah Allah memberikan titahNya kepada manusia terpilih, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul secara bahasa artinya adalah, pemberitahuan secara rahasia nan cepat. Secara syar’i, wahyu berarti pemberitahuan dari Allah kepada para nabiNya dan para rasulNya tentang syari’at atau kitab yang hendak disampaikan kepada mereka, baik dengan perantara atau tanpa perantara. Wahyu secara syar’i ini jelas lebih khusus, dibandingkan dengan makna wahyu secara bahasa, baik ditinjau dari sumbernya, sasarannya maupun bermacam-macam wahyu syar’i, dan yang terpenting ialah sebagaimana penjelasan Taklimullah Allah Azza wa Jalla berbicara langsung kepada NabiNya dari belakang hijab. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan contoh dalam keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah Azza wa Jalla berbicara langsung dengan Musa Alaihissallam, dan juga dengan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pada peristiwa isra’ dan mi’raj. Allah berfirman tentang nabi Musa وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ” …Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [an Nisaa`/4 164].Adapun contoh ketika dalam keadaan tidur, yaitu sebagaimana diceritakan dalam hadits dari Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabal. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda أَتَانِي رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ وَسَعْدَيْكَ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ رَبِّ لَا أَدْرِي فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ فَوَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ فَعَلِمْتُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ وَسَعْدَيْكَ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ“Aku didatangi dalam mimpi oleh Rabb-ku dalam bentuk terbaik, lalu Dia berfirman “Wahai, Muhammad!” Aku menjawab,”Labbaik wa sa’daika.” Dia berfirman,”Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?” Aku menjawab,”Wahai, Rabb-ku, aku tidak tahu,” lalu Dia meletakkan tanganNya di kedua pundakku, sampai aku merasakan dingin di dadaku. Kemudian, aku dapat mengetahui semua yang ada di antara timur dan barat. Allah Azza wa Jalla berfirman,”Wahai, Muhammad!” Aku menjawab,”Labbaik wa sa’daika!” Dia berfirman,”Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?” Aku menjawab,”………“. Al hadits.Dalam hal wahyu ini, para ulama salaf, Ahli Sunnah wal Jama’ah memegangi pendapat, bahwa Nabi Musa Alaihissallam dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keduanya pernah mendengar kalamullah al azaliy al qadim [1], yang merupakan salah satu sifat di antara sifat-sifat Allah. Pendapat ini sangat berbeda dan tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa yang terdengar adalah bisikan hati atau suara yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla pada sebatang Allah Azza wa Jalla menyampaikan risalahNya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa cara 1. Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya. Cara seperti ini sangat jarang terjadi, dan hanya terjadi dua kali. Pertama, saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam setelah masa vakum dari wahyu, yaitu setelah Surat al Alaq diturunkan, lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak menerima wahyu beberapa saat. Masa ini disebut masa fatrah, artinya kevakuman. Kedua, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dimi’ Malaikat Jibril Alaihissallam terkadang datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam wujud seorang lelaki. Biasanya dalam wujud seorang lelaki yang bernama Dihyah al Kalbiy. Dia adalah seorang sahabat yang tampan rupawan. Atau terkadang dalam wujud seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenal oleh para sahabat. Dalam penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir dapat melihatnya dan mendengar perkataannya, akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat permasalahan ini. Sebagaimana diceritakan dalam hadits Jibril yang masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan ihsan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Di awal hadits ini, Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu menceritakan بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Pada suatu saat, kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda melakukan perjalanan jauh, dan tidak tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, sampai dia duduk di dekat Nabi Shallallahu alaihi wa sallamKemudian di akhirnya, yaitu sesaat setelah orang itu pergi, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Umar Radhiyallahu anhu يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ“Wahai, Umar. Tahukah engkau, siapakah orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui,” kemudian Rasulullah bersabda,”Dia itu adalah Malaikat Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian din agama kalian.”Ini menunjukkan, meskipun para sahabat dapat melihatnya dan bisa mendengar suaranya, namun mereka tidak mengetahui jika dia adalah Malaikat Jibril yang datang membawa wahyu. Mereka mengerti setelah diberitahu oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, namun ia tidak terlihat. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengetahui kedatangan Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan terkadang seperti dengung lebah. Inilah yang terberat bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sehingga dilukiskan saat menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berubah secara diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, dia berkata “Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sementara itu paha beliau Shallallahu alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur”.[2]Beratnya menerima wahyu dengan cara seperti ini, juga diceritakan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu alaihi wa ass ditanya يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ“Wahai, Rasulullah. Bagaimanakah cara wahyu sampai kepadamu?” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan inilah yang terberat bagiku, dan aku memperhatikan apa dia katakan. Dan terkadang seorang malaikat mendatangi dengan berwujud seorang lelaki, lalu dia menyampaikannya kepadaku, maka akupun memperhatikan apa yang dia ucapkan.”Berdasarkan riwayat dan penjelasan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini, maka dapat dipahami bahwa saat menerima semua wahyu, Rasulullah merasa berat. Namun, yang paling berat ialah cara yang semacam Wahyu disampaikan dengan cara dibisikkan ke dalam kalbu. Yaitu Allah Azza wa Jalla atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam disertai pemberitahuan bahwa, ini merupakan dari Allah Azza wa Jalla. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al Qana’ah, dan Ibnu Majah, serta al Hakim dalam al Mustadrak. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوْعِي لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُنَالُ مَاعِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ“Sesungguhnya Ruhul Quds Malaikat Jibril meniupkan ke dalam kalbuku “Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah Azza wa Jalla menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang di sisi Allah Azza wa Jalla tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaatiNya“.Keempat Wahyu diberikan Allah Azza wa Jalla dalam bentuk ilham. Yaitu Allah memberikan ilmu kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, saat beliau berijtihad pada suatu Wahyu diturunkan melalui mimpi. Yaitu Allah Azza wa Jalla terkadang memberikan wahyu kepada para nabiNya dengan perantaraan mimpi. Sebagai contoh, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalllam agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diceritakan oleh Allah Azza wa Jallaفَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“. [ash Shaffat/37 102].Demikian cara-cara penerimaan wahyu Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Semua jenis wahyu ini dibarengi dengan keyakinan dari si penerima wahyu, bahwa apa yang diterima tersebut benar-benar datang dari Allah Azza wa Jalla, bukan bisikan jiwa, apalagi tipu daya ala Nabiyina Muhammad, wa ala alihi washabihi wasallam.Diangkat dari as-Siratun Nabawiyah fi Dau-il Qur’an was Sunnah, Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, hlm. 269-271[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______ Footnote [1]. Kalamullah secara hakiki [2]. Shahih Bukhari Itu hampir lima belas abad yang lalu bahwa wahyu ilahi diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, pengaturan dalam gerak pengembangan iman yang luar biasa yang telah menjadi agama yang paling cepat berkembang di ini datang dalam bentuk Al – Qur’an, kitab suci Islam, dan berfungsi sebagai landasan keyakinan dan praktik Muslim. Al – Quran, yang diyakini sebagai firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi, berisi beragam ajaran dan panduan tentang segala hal mulai dari moralitas dan etika hingga hukum dan pemerintahan. Tapi Al – Quran jauh lebih dari sekedar buku aturan dan peraturan. Ini adalah sumber inspirasi, panduan bagi mereka yang mencari pencerahan spiritual, dan suar harapan bagi mereka yang menghadapi kesulitan. Sepanjang Al – Quran, kita melihat kisah – kisah yang menyayat hati tentang cobaan dan kesengsaraan, ajaran tentang keadilan sosial dan kasih sayang, dan nasihat untuk mencari pengetahuan dan kebijaksanaan. Kami melihat pengingat untuk merawat orang – orang yang kurang beruntung di komunitas kami, untuk tabah dalam menghadapi kesulitan, dan untuk selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Salah satu aspek yang paling mencolok dari Quran adalah penekanannya pada universalitas pesannya. Ini tidak hanya berbicara kepada umat Islam, tetapi untuk semua umat manusia. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk mengingat ikatan bersama kita sebagai anggota keluarga manusia dan bekerja sama untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Salah satu pesan utama dari Al – Quran adalah pentingnya mencari pengetahuan dan kebijaksanaan. Melalui pengetahuan dan pemahaman, kita dapat mulai lebih memahami dunia di sekitar kita, dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang akan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Nabi sendiri adalah contoh yang bersinar dari prinsip ini. Dia dikenal karena kebijaksanaan dan pengetahuannya, dan dia terus berusaha untuk belajar lebih banyak tentang dunia dan tempatnya di dalamnya. Dedikasinya terhadap pengetahuan dan pemahaman berperan penting dalam pengembangan iman Islam, dan terus menjadi inspirasi bagi umat Islam di seluruh dunia saat ini. Pada akhirnya, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah hadiah dari Tuhan, kesempatan bagi umat manusia untuk lebih memahami tempatnya di dunia dan untuk bekerja menuju masyarakat yang lebih adil dan penuh kasih. Ini adalah pengingat bahwa kita semua adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, dan bahwa kita memiliki tanggung jawab bersama untuk saling peduli dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Apakah Anda seorang Muslim atau tidak, pesan Al – Quran adalah salah satu yang berbicara kepada kita semua. Ini adalah pesan harapan dan kasih sayang, kekuatan dan ketahanan, dan kekuatan manusia untuk bekerja sama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan generasi yang akan datang. Bagaimana Penjelasan Wahyu yang Diturunkan Kepada Nabi Jawaban TTS Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini telah membentuk agama Islam dan dianggap sebagai landasan iman pertama kali diturunkan kepada Nabi saw di bulan Ramadhan pada tahun 610 Masehi. Nabi saw sedang bermeditasi dan merenung di sebuah gua yang dikenal sebagai Hira ketika ia menerima wahyu pertama dari Allah SWT. Wahyu itu dibawa kepadanya oleh Malaikat Jibril Gabriel yang memerintahkannya untuk membaca “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ini adalah yang pertama dari banyak wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw selama periode 23 tahun. Al – Quran adalah kitab suci umat Islam. Al – Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Al – Quran berisi ajaran tentang etika, moralitas, spiritualitas, dan hukum – hukum iman Islam. Ini mengajarkan Muslim bagaimana menjalani kehidupan yang saleh dan memuaskan, dan bagaimana mendapatkan berkah Allah SWT. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw bukan hanya wahyu bagi umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia. Ini berisi bimbingan dan ajaran yang berlaku untuk orang – orang dari semua agama dan latar belakang. Al – Quran mengajarkan penghormatan terhadap semua manusia, terlepas dari agama atau latar belakang mereka, dan mempromosikan perdamaian dan harmoni di antara semua orang. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw juga memainkan peran penting dalam pembentukan komunitas Islam. Muslim pertama, termasuk Nabi saw sendiri, adalah yang pertama untuk menempatkan ajaran Al – Qur’an ke dalam praktek. Mereka hidup sesuai dengan petunjuk Al – Qur’an dan mendirikan masyarakat berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah sumber inspirasi dan bimbingan bagi umat Islam di seluruh dunia. Ini telah memberi mereka rasa tujuan dan arah dalam hidup, dan telah membantu mereka untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan bagi Allah SWT. Kesimpulannya, wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ini adalah pesan bimbingan dan harapan bagi umat Islam dan seluruh umat manusia. Ajaran Al – Quran telah menjadi sumber inspirasi dan bimbingan bagi banyak orang sepanjang sejarah, dan mereka terus demikian hari ini. Apa Yang Terjadi? Dalam tradisi Islam, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dianggap sebagai peristiwa paling penting dalam sejarah umat manusia. Hal ini diyakini bahwa Al – Qur’an adalah firman Allah, Yang Mahakuasa, dan diturunkan kepada Nabi melalui Malaikat Jibril selama periode 23 dimulai pada 610 Masehi, ketika Nabi berusia 40 tahun dan berada di gua Hira di luar kota Mekah. Malaikat Jibril muncul di hadapannya dan memerintahkannya untuk membaca ayat – ayat yang akan menjadi Al – Qur’an. Wahyu pertama adalah ayat “Bacalah! “Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah” QS 961 -2 Sejak saat itu, Nabi Muhammad saw mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk tugas menyebarkan pesan Islam. Dia menerima banyak wahyu selama waktu ini, yang kemudian disusun dan menjadi Al – Qur’an. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw bukan hanya untuk kaum muslimin, tetapi untuk seluruh umat manusia. Ini adalah pesan bimbingan dan belas kasih, dan menekankan pentingnya keadilan sosial, kasih sayang, dan perdamaian. Firman Allah swt yang bermaksud “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al – Quran dengan berbahasa Arab, supaya kamu memahaminya.” Quran 122 Al – Quran memberikan panduan pada setiap aspek kehidupan, termasuk perilaku pribadi, hubungan keluarga, transaksi bisnis, dan keadilan sosial. Ini mendorong orang percaya untuk bersikap baik dan adil, untuk saling membantu, dan untuk merawat yang kurang beruntung. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi juga menekankan pentingnya pendidikan dan pengetahuan. Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Al – Qur’an mengacu pada pengetahuan dan pendidikan sebagai sarana untuk mencapai keselamatan “Katakanlah Apakah mereka yang tahu sama dengan mereka yang tidak tahu? Hanya orang – orang yang berakal saja yang ingat.” Quran 399 Aspek penting lain dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi adalah penekanannya pada konsep monoteisme. Dalam Islam, kepercayaan pada keesaan Tuhan adalah pusat dari ajarannya. Katakanlah “Dia – lah Allah, Yang Esa, Allah Yang Kekal, Yang Mutlak; Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan; dan tidak ada yang seperti Dia.” Quran 1121 -4 Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw bukan hanya pesan untuk orang – orang pada masanya, tetapi untuk semua generasi yang akan datang. Ini adalah pesan abadi bimbingan dan kebijaksanaan yang terus menginspirasi dan membimbing jutaan orang di seluruh dunia saat ini. Kesimpulannya, wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah peristiwa penting dalam sejarah umat manusia. Ini memberikan bimbingan dan kebijaksanaan kepada umat Islam dan orang – orang dari semua agama, menekankan pentingnya keadilan sosial, kasih sayang, dan pendidikan. Ini juga menekankan konsep monoteisme, mendesak orang percaya untuk menyembah satu Tuhan dan mencari keselamatan melalui perbuatan baik dan perilaku yang benar. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi adalah pesan abadi yang terus menginspirasi dan membimbing orang menuju dunia yang lebih baik dan lebih adil. Mengapa Informasi Ini Penting? Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah manusia. Komunikasi ilahi ini, yang dimulai pada tahun 610 M, dianggap oleh umat Islam sebagai dasar iman mereka dan sumber utama bimbingan bagi umat manusia. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi sifat dan pentingnya wahyu, serta relevansinya bagi umat Islam Al – Qur’an dimulai ketika Nabi Muhammad saw berusia 40 tahun. Dia adalah seorang pedagang yang sukses di kota Mekah, tetapi dia juga menjadi semakin tidak puas dengan kerusakan moral dan kekosongan spiritual masyarakatnya. Dia secara teratur mundur ke sebuah gua di pegunungan terdekat untuk kontemplasi dan doa, mencari pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan hidup. Pada bulan Ramadhan, Al – Qur’an pertama kali diwahyukan kepadanya. Dia dikunjungi oleh Malaikat Jibril, yang memerintahkan dia untuk membaca kata – kata yang dia dengar. Selama 23 tahun berikutnya, wahyu terus datang kepadanya dalam fragmen, seperti dan ketika Allah menghendakinya. Nabi akan menerima wahyu ini baik di Mekah dan di kota Madinah di mana ia bermigrasi ke di 622 CE, dan mereka akhirnya akan disusun menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai Quran. Wahyu Al – Quran adalah momen transformatif tidak hanya untuk Nabi Muhammad, tetapi untuk seluruh umat Islam masyarakat. Pesan yang terkandung dalam Quran adalah salah satu monoteisme kepercayaan pada satu Tuhan, perilaku etis, dan keadilan sosial. Ini menyerukan kepada orang – orang untuk menolak penyembahan berhala, kesukuan, dan eksploitasi yang lazim di Arab pada saat itu, dan untuk merangkul standar moralitas dan kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Al – Quran juga luar biasa dalam bentuk sastranya. Ini ditulis dalam bahasa Arab, yang pada saat itu adalah bahasa yang dikenal karena kefasihannya, dan menggunakan berbagai perangkat retoris seperti metafora, perumpamaan, dan kiasan untuk menyampaikan pesannya. Keindahan dan keanggunannya telah mengilhami banyak orang sepanjang sejarah, dan dianggap oleh umat Islam sebagai mukjizat utama Nabi Muhammad. Al – Quran telah menjadi sumber bimbingan dan inspirasi bagi umat Islam selama lebih dari tahun. Ajarannya tentang iman, moralitas, dan keadilan sosial terus beresonansi dengan umat Islam di seluruh dunia, dan telah menyediakan kerangka kerja untuk pengembangan hukum Islam, etika, dan spiritualitas. Hal ini dianggap sebagai wahyu terakhir dan paling lengkap dari Allah kepada umat manusia, dan pengetahuan dan kebijaksanaan telah diwariskan dari generasi ke generasi melalui beasiswa dan hafalan. Kesimpulannya, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah momen yang menentukan dalam sejarah manusia. Ini adalah dasar dari iman Islam dan sumber inspirasi dan bimbingan bagi umat Islam di seluruh dunia. Ajarannya tentang monoteisme, etika, dan keadilan sosial telah memiliki dampak mendalam pada peradaban manusia, dan keindahan dan keanggunannya terus menangkap hati dan pikiran orang – orang dari semua latar belakang. Sebagai Muslim, kita diberkati untuk memiliki Quran sebagai panduan kita dan Nabi Muhammad sebagai contoh kita, dan itu adalah tugas kita untuk menegakkan nilai – nilai dan ajaran yang terkandung dalam wahyu ilahi ini. Kapan Dan Siapa Yang Membuat Artikel Ini Trending? Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini menandai awal kenabian Nabi dan wahyu dari kitab suci, Al – Qur’ itu datang kepada Nabi Muhammad saw ketika ia berada di Gua Hira. Tiba – tiba Jibril mendapat penglihatan dari malaikat Jibril yang menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan .” Pada awalnya, Nabi terkejut dan bingung, tetapi Jibril terus berbicara dengannya dan mengungkapkan lima ayat pertama dari Surah Al – Alaq The Clot kepadanya. Ayat – ayat ini adalah wahyu pertama Al – Quran dan mereka menandakan awal dari sebuah era baru dalam sejarah dunia. Wahyu itu bukan peristiwa biasa, melainkan kejadian ajaib. Nabi Muhammad saw adalah seorang pria yang tidak bisa membaca atau menulis. Oleh karena itu, wahyu adalah manifestasi yang mendalam dari kekuatan Allah dan Al – Quran dianggap sebagai Firman Allah. Reaksi Nabi terhadap wahyu ini adalah salah satu kekaguman dan keajaiban. Dia direndahkan oleh keagungan Allah dan sifat yang mendalam dari wahyu. Dia menyadari bahwa dia telah dipilih oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan – Nya kepada orang – orang di dunia. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw tidak terbatas pada ayat – ayat pertama dari Surah Al – Alaq. Selama 23 tahun, Nabi menerima ratusan wahyu yang disusun ke dalam kitab suci Islam, Al – Quran. Al – Quran adalah panduan yang sempurna dan lengkap untuk semua aspek kehidupan manusia. Ini berisi panduan untuk individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Al – Quran berisi ajaran tentang moralitas, etika, keadilan, hak asasi manusia, nilai – nilai keluarga, dan banyak lagi. Al – Quran adalah sumber inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Ini telah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa, dan jutaan orang membaca ayat – ayatnya setiap hari. Ini terus membimbing dan menginspirasi orang untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kehendak Allah. Kesimpulannya, wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ini menandai awal kenabian Nabi Muhammad saw dan wahyu dari kitab suci, Al – Qur’an. Quran adalah panduan yang sempurna dan lengkap untuk semua aspek kehidupan manusia, dan tetap menjadi sumber inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Melalui wahyu inilah Allah berkomunikasi dengan Nabi, menyampaikan kepadanya pesan ilahi – kepercayaan Islam, wahyu yang diturunkan kepada Nabi tidak hanya dimaksudkan untuk zamannya tetapi juga berlaku untuk semua waktu. Ini adalah pesan yang memberikan bimbingan dan arahan kepada umat Islam bahkan hari ini. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi terdapat dalam Al – Quran, teks suci Islam. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dimulai ketika ia berada di awal empat puluhan. Dia mundur ke sebuah gua di pegunungan, mencari kesendirian dan refleksi. Di sinilah ia menerima wahyu pertamanya, di mana Malaikat Jibril muncul di hadapannya dan berkata, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan !” Nabi, tidak yakin apa yang terjadi, menjawab bahwa ia tidak bisa membaca. Malaikat mengulangi perintahnya, dan sekali lagi Nabi menjawab bahwa dia tidak bisa membaca. Malaikat kemudian terus memeluk Nabi, memeluknya erat – erat sampai ia merasa ia siap untuk melakukan apa yang Allah telah memanggilnya untuk melakukan. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi menandai awal dari perannya sebagai nabi dan utusan Allah. Saat ia menerima wahyu berikutnya, ia mulai menyebarkan pesan Islam kepada orang – orang Mekah. Meskipun ada perlawanan awal, pesannya mulai beresonansi dengan orang – orang, dan komunitas kecil pengikut mulai tumbuh. Selama dua puluh tiga tahun berikutnya, Nabi terus menerima wahyu, menambah pertumbuhan tubuh kitab suci Islam. Wahyu berisi panduan tentang hal – hal, termasuk perilaku sehari – hari, keadilan sosial, dan akhirat. Ayat – ayat ini dicatat oleh para sahabat Nabi dan kemudian disusun menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai Alquran. Al – Quran diakui oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai sumber utama bimbingan dan landasan iman Islam. Ini adalah panduan komprehensif untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah dan mengajarkan umat Islam untuk menjalani hidup mereka dengan seperangkat prinsip yang berakar pada perdamaian, kasih sayang, keadilan, dan ketundukan kepada Allah. Kesimpulannya, wahyu yang diturunkan kepada Nabi adalah momen penting dalam sejarah Islam, menandai awal dari sebuah perjalanan yang akan membentuk lanskap spiritual dunia. Pesan Islam, yang terkandung dalam Al – Quran, terus menginspirasi generasi Muslim, memberikan bimbingan dan arahan kepada mereka yang ingin menjalani hidup mereka sesuai dengan kehendak Allah. Jakarta - Ada satu cara turun wahyu yang paling berat diterima Nabi Muhammad SAW. Seperti diketahui, cara turunnya wahyu kepada para nabi dan rasul sendiri melalui bentuk yang berbeda-beda sebagaimana dijelaskan dalam surah Asy Syura' ayat كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌArtinya "Tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara langsung oleh Allah, kecuali dengan perantaraan wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengirim utusan malaikat lalu mewahyukan kepadanya dengan izinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana."Tiap cara diturunkannya tersebut memiliki tingkatan masing-masing. Berdasarkan keterangan hadits dalam al Muwaththa' yang diterjemahkan Tafsir al-Munir Jilid 15 oleh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, cara turun wahyu yang paling berat diterima Nabi Muhammad SAW adalah wahyu datang seperti suara kata lain, suara tersebut memiliki bunyi yang keras. Bahkan membuat Nabi Muhammad SAW bermandikan keringat di tengah musim dingin merasakan beratnya menerjemahkan suara bunyi lonceng tersebut menjadi Al-Qur' عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ الحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يَأْتِيكَ الوَحْيُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ» قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الوَحْيُ فِي اليَوْمِ الشَّدِيدِ البَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًاArtinya Diriwayatkan dari Abdullah bin Yusuf; dari Malik, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah ummul mu'minin 'ibu para mukmin' yang meriwayatkan bahwasanya Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai bagaimana cara wahyu menjawab, "Kadang-kadang dia mendatangiku seperti gemerincing lonceng. Ini yang paling berat bagiku. Wahyu sudah terlepas dariku dan aku telah menghafalkan apa yang dikatakan dari Malaikat Jibril. Terkadang juga Jibril datang menyerupai seorang berkata, "Aku pernah melihat Nabi ketika diturunkan wahyu kepadanya pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu selesai darinya sementara keningnya penuh dengan keringat," HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa'i.Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan mengapa cara turunnya wahyu tersebut menjadi cara yang terberat untuk Nabi Muhammad SAW. Sebab, cara tersebut membuat Nabi Muhammad SAW harus mampu mengendalikan kesadaran penuhnya."Ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah SAW dengan cara seperti ini, maka ia mengumpulkan semua kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal, dan memahaminya," kata Ibnu Hajar yang diterjemahkan Abdul Hamid, Lc., dalam Pengantar Studi Al-Qur' bunyi lonceng tersebut, Ibnu Hajar berpendapat, dimungkinkan berasal dari suara kepakan sayap-sayap malaikat. Tepatnya suara satu kepakan dari malaikat yang membawa wahyu seperti ini pernah terjadi saat paha Nabi Muhammad SAW berada di atas Zaid bin Tsabit. Hal itu pun membuat Zaid merasa keberatan dan hampir saja tidak kuat hal ini, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah juga pernah berpendapat, ada rasa samar dari sosok yang hadir bersama para nabi dan rasul ketika mereka menerima wahyu. Terkadang, datangnya juga dirasakan seperti dekapan dan tidak sedikit membuat para nabi dan rasul hilang proses penyampaian wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ada 7 cara yang dilakukan. Menurut Syekh Shafiyarrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Sirah Nabawiyah yang mengutip Ibnu Qayyim, 7 cara yang dimaksud adalah lewat mimpi, bisikan dalam jiwa, hingga menyerupai seorang lainnya yang dilakukan oleh Malaikat Jibril saat membawa wahyu pada Nabi Muhammad adalah memperlihatkan rupa aslinya, disampaikan Allah SWT langsung melalui peristiwa Mi'raj, dan yang terakhir, turun wahyu yang paling berat diterima Nabi Muhammad yakni bunyi gemerincing lonceng. Simak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] rah/lus Ilustrasi wahyu pertama Nabi Muhammad. Foto Freepik. Alquran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Wahyu pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan bertepatan pada 6 Agustus 610 M, saat Nabi Muhammad berumur 41 dari buku Belajar Tadabbur Ilmu Karakter Pada Lebah, Burung Gagak Dan Singa oleh Doni Putra, dkk., pendapat lain mengatakan bahwa wahyu pertama turun pada hari Senin tanggal 21 Ramadhan yang saat itu bertepatan dengan 10 Agustus 610 M. Wahyu pertama turun selang beberapa waktu setelah Malakat Jibril menemui Nabi Muhammad dalam mimpinya untuk menyampaikan perintah dakwah Islam. Hal itu tertuang pada surat Al Mudassir ayat 1-7 berikutيٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙقُمْ فَاَنْذِرْۖ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗArtinya Hai orang yang berkemul berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu, Turunnya Wahyu Pertama Nabi MuhammadIlustrasi wahyu pertama Nabi Muhammad. Foto Freepik. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah menjelaskan, Aisyah menuturkan bahwa turunnya wahyu pertama Nabi diawali dengan ru’yah shadiqqah yang artinya mimpi yang sangat jelas. Setelah mendapat mimpi tersebut, Nabi memutuskan untuk mengasingkan diri ke Gua bertahanut atau beribadah dalam beberapa malam dan pulang untuk mengambil bekal, hingga datang wahyu pertama saat Nabi sedang di Gua Hira. Wahyu pertama Nabi adalah ayat 1-5 surat Al Alaq yang berbunyiاِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَق اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ۚArtinya Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak wahyu pertama merupakan peristiwa yang memberikan dampak psikologis dan mental yang luar biasa kepada Nabi Muhammad. Malaikat Jibril datang dengan sosok yang sangat besar dan bercahaya yang memenuhi cakrawala yang membuatnya hadits sahih Muslim, Nabi Muhammad mengisahkan, “Malaikat Jibril memangku dan mendekapku sampai aku merasa begitu payah, lalu dia melepaskanku. Ia berkata lagi, “Bacalah! Aku menjawab, “aku tidak bisa membaca.”Malaikat Jibril kemudian memegangku dan mendekapku hingga ketiga kalinya, kemudian ia membaca, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” HR. Muslim Ilustrasi Alquran. Foto Unspaslash. Dikutip dari buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII karya Harjan Syuhada dan Fida' Abdilah, wahyu selanjutnya diturunkan dengan jeda waktu tiga tahun dan seterusnya berangsur-angsur selama 23 tahun. Lokasi penurunan Alquran ada di dua tempat, yaitu di Mekah dan Alquran yang turun di Mekah disebut Makiyyah, sedangkan ayat yang turun di Madinah disebut Madaniyyah. Alquran yang merupakan firman-firman Allah ini terdiri dari 30 juz, 114 surah dan ayat. NilaiJawabanSoal/Petunjuk KITAB Wahyu Yang Diturunkan Kepada Nabi NUBUAT Wahyu yang diturunkan kepada nabi INJIL Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa TAURAT Kitab Perjanjian Lama yang diturunkan kepada Nabi Musa WAHYU Petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada nabi SYEKH Sebutan kepada orang Arab keturunan sahabat Nabi SAYYID Sebutan kepada orang Arab keturunan sahabat Nabi HABIBI Sebutan kepada orang Arab keturunan sahabat Nabi IMAN Keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya DASATITAH Sepuluh perintah Allah yang diberikan kepada nabi Musa RASUL Orang yang menerima wahyu Tuhan untuk disampaikan kepada manusia ZABUR Kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kpd Nabi Daud SUHUF 1 kitab Allah Swt yang diturunkan kpd para nabi dan rasul-Nya, merupakan lembaran yang bertulis; halaman buku; surat; dokumen; sahifah; 3 kertas bahan hasil daur ulang ALQURAN Firman-firman Allah yang diturunkan kpd Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk ata... MENURUNKAN ...naknya; 4 menggembalakan ~ lembu; 5 menyampaikan wahyu sabda, ajaran, dsb Allah ~ wahyu kpd Nabi Muhammad saw; 6 memilih untuk ikut bermain berta... UNTUK Kepada ANBIA Para nabi ISA Nana nabi ADAM Nama Nabi NAAR Kepada Belanda TO Ke; kepada Inggris NUH Nama nabi REVELATION Wahyu Inggris TAKLUK Tunduk kepada HIRA Gua wahyu

wahyu yang diturunkan kepada nabi tts